Guru Bahasa Berwawasan Sains

Tuesday, May 14, 2013

Waktu tak mungkin kembali. Tahun ajaran 2013/2014 segera menyambut. Semua jenjang sekolah di Indonesia harus mempersiapkan diri menyambut berlakunya kurikulum 2013. Tidak ada sikap yang patut dilakukan selain mengalir, mengikuti arah waktu berjalan. Ikuti aturan main sesuai instruksi pemerintah, sebab sekolah tidak punya kekuatan untuk menolaknya.

Di tingkat SD, jumlah pelajaran secara fisik dikurangi, walaupun secara substansi tidak ada perubahan. Pelajaran sains (IPA) dihapuskan dari susunan jadwal pelajaran. Materinya diintergrasikan ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini tidak jadi masalah karena selama ini materi pelajaran Bahasa Indonesia sudah mencakup banyak disiplin ilmu, di antaranya adalah sains. Tema bacaan atau wacana di dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia sangat beragam, sehingga guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak punya cukup alasan untuk mengatakan sulit dan tidak bisa.

Perlu disadari bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya tidak bisa diajarkan secara tekstual, mesti ada ulasan terhadap wacana yang diangkat. Di tingkat SD, wawasan sains mutlak dimiliki oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi, pada kurikulum 2013 nanti materi sains "dititipkan" kepada guru Bahasa Indonesia untuk mengajarkannya.

Sementara ini, pelajaran Bahasa Indonesia mudah sekali dilempar sana lempar sini, diberikan pada siapapun yang mau mengajar. Alasannya, pelajaran Bahasa Indonesia baru dipandang sebatas mengajarkan membaca dan menulis. Jika memang demikian, siapapun bisa mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia.

Untuk penerapan kurikulum 2013, sepertinya pandangan yang demikian tidak lagi relevan diterapkan. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SD harus berwawasan luas. Wawasan sains terutama mutlak dimiliki. Jika tidak, materi sains yang dititipkan kepada guru Bahasa Indonesia pun akan menguap begitu saja. Jika demikian, anak didik tidak akan memiliki pengetahuan sains.

Read more...

Berubah dan Terus Berubah

Friday, April 5, 2013

Kurikulum oh Kurikulum

Sebentar lagi kurikulum 2013, sekitar tiga bulan lagi, tepatnya awal tahun ajaran 2013/2014, diberlakukan. Pada semua jenjang pendidikan, namun tidak untuk semua kelas. Kalau tidak ada perubahan kebijakan, kurikkulum baru nanti akan diberlakukan untuk kelas satu SD, SMP, SMA, dan kelas 4 SD. Dengan demikian, tiga tahun berikutnya, semua kelas pada semua jenjang pendidikan telah menerapkan kurikulum 2013.

Namun, belum lagi kurikulum baru ini diterapkan, sudah muncul berbagai spekulasi dari banyak kalangan. Keraguan ini bukan tidak beralasan. Tahun 2004, muncul kurikulum yang namanya KBK. Dua tahun berikutnya muncul KTSP yang masih berlaku hingga saat ini (2012/2013). Namun demikian, di awal penerapannya, pemerintah memberi keleluasaan kepada pihak sekolah untuk memilih salah satu dari dua kurikulum tersebut. Kebijakan pemerintah yang diwakili oleh menteri pendidikan yang setiap saat berganti inilah yang memunculkan spekulasi terhadap penerapan kurikulum 2013 nanti.

Setahun usia kurikulum 2013 diberlakukan, bangsa Indonesia akan melangsungkan pesta demokrasi untuk memilih presiden. Presiden yang baru nanti sudah tentu melakukan perombakan susunan kabinet walaupun tidak menutup kemungkinan ada beberapa menteri yang mungkin dipertahankan. Dari beberapa kali pengalaman, ada kesan setiap menteri ingin membuat suatu perubahan pada bidang tanggung jawabnya. Tidak terkecuali menteri pendidikan dan kebudayaan yang sangat mungkin mengganti kurikulum yang sedang diberlakukan. Dengan demikian, layak jika spekulasi beberapa kalangan muncul.

Tahun 2014, setelah presiden baru terpilih, bisa jadi Pak Muhammad Nuh tidak lagi menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Pertanyaannya adalah, apakah kurikulum 2013 yang digagas oleh beliau masih akan dilanjutkan oleh menteri yang menggantikannya? Akankan nasib kurikulum baru itu mengulang nasib KBK yang hanya berumur dua tahun?

Read more...

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP