Pembelajaran Integratif-Interaktif Bahasa Indonesia

Thursday, September 26, 2013

Mengajarkan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah bukanlah hal yang mudah, sekalipun banyak guru yang merasa bisa.Pembelajaran Bahasa membutuhkan kreativitas sehingga banyak kreasi yang tercipta dalam setiap materi. Dengan demikian, pengalaman belajar yang didapat siswa semakin bervariasi pula.

Mengintegrasikan Beberapa Materi dalam Satu Kegiatan Interaktif

Salah satu kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan oleh guru bahasa dan sastra Indonesia adalah mengintegrasikan beberapa materi dalam satu kegiatan. Kegiatan itu harus dibuat interaktif dan menantang, sehingga tidak sekedar membahas beberapa materi dalam satu pertemuan saja.

Misalnya, di dalam buku kelas XI terdapat materi membaca siaran berita, melakukan wawancara dengan narasumber, membuat proposal, dan menganalisis unsur intrinsik sebuah hikayat. Keempat materi tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langah berikut.

1. Siswa diminta membuat sebuah proposal
   Di dalam membuat proposal, siswa benar-benar mengajukan usulan kegiatan yang dapat dilaksanakan secara riil. Sebagaimana proposal yang sesungguhnya, siswa harus membentuk susunan panitia dan kebutuhan anggaran yang akan digunakan. Salah satu tempat kegiatan yan dapat dituju adalah perpustakaan daerah. Proposal tersebut diajukan kepada kepala sekolah atau ketua yayasan.

2. Siswa melakukan wawancara dengan narasumber
   Di dalam kegiatan yang dilaksanakan, siswa melakukan wawancara dengan seorang narasumber. Topik wawancara bisa seputar buku-buku yang di dalamnya memuat hikayat tertentu. Siswa dapat menanyakan keberadaan buku-buku tersebut. di samping itu, dapat ditanyakan pula seberapa besar buku-buku itu dibaca atau dipinjam pengunjung lain. Tentu tidak sebatas itu wawancara yang dilakukan. setidaknya, hal itu bisa menjadi bahan untuk wawancara.

3. Siswa menyusun hasil wawancara dalam bentuk paragraf
   Setelah siswa selesai melakukan wawancara dan menuliskan hasilnya, selanjutnya siswa menyusun hasil wawancara dalam bentuk paragraf. Itulah yang nantinya dijadikan teks berita yang siap dibacakan.

4. Siswa membacakan (memperagakan pembaca berita) hasil wawancara
   Pada tahap ini, siswa diminta memperagakan pembaca berita di televisi dengan menirukan gaya pembaca berita sesungguhnya. Agar lebih menarik, kegiatan ini disyuting sehingga siswa seolah-olah benar-benar tampil di televisi. 

5. Siswa menonton hasil syuting
   Barangkali inilah ending dari satu kegiatan pembelajaran ini. Siswa diberi kesempatan menonton penampilannya sendiri sekaligus teman-temannya dalam membacakan siaran berita. Mereka bisa saling memberikan komentar dan evaluasi.

Itulah salah satu kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia.Insya Allah, jika hal ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia akan menyenangkan.


 

Read more...

Guru Bahasa Berwawasan Sains

Tuesday, May 14, 2013

Waktu tak mungkin kembali. Tahun ajaran 2013/2014 segera menyambut. Semua jenjang sekolah di Indonesia harus mempersiapkan diri menyambut berlakunya kurikulum 2013. Tidak ada sikap yang patut dilakukan selain mengalir, mengikuti arah waktu berjalan. Ikuti aturan main sesuai instruksi pemerintah, sebab sekolah tidak punya kekuatan untuk menolaknya.

Di tingkat SD, jumlah pelajaran secara fisik dikurangi, walaupun secara substansi tidak ada perubahan. Pelajaran sains (IPA) dihapuskan dari susunan jadwal pelajaran. Materinya diintergrasikan ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini tidak jadi masalah karena selama ini materi pelajaran Bahasa Indonesia sudah mencakup banyak disiplin ilmu, di antaranya adalah sains. Tema bacaan atau wacana di dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia sangat beragam, sehingga guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak punya cukup alasan untuk mengatakan sulit dan tidak bisa.

Perlu disadari bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya tidak bisa diajarkan secara tekstual, mesti ada ulasan terhadap wacana yang diangkat. Di tingkat SD, wawasan sains mutlak dimiliki oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi, pada kurikulum 2013 nanti materi sains "dititipkan" kepada guru Bahasa Indonesia untuk mengajarkannya.

Sementara ini, pelajaran Bahasa Indonesia mudah sekali dilempar sana lempar sini, diberikan pada siapapun yang mau mengajar. Alasannya, pelajaran Bahasa Indonesia baru dipandang sebatas mengajarkan membaca dan menulis. Jika memang demikian, siapapun bisa mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia.

Untuk penerapan kurikulum 2013, sepertinya pandangan yang demikian tidak lagi relevan diterapkan. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SD harus berwawasan luas. Wawasan sains terutama mutlak dimiliki. Jika tidak, materi sains yang dititipkan kepada guru Bahasa Indonesia pun akan menguap begitu saja. Jika demikian, anak didik tidak akan memiliki pengetahuan sains.

Read more...

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP